Arsip Blog

Sepeda Motor Injeksi Irit Harga Terbaik Cuma Honda

Sepeda motor injeksi irit harga terbaik cuma Honda. Klaim Honda seperti judul di atas sepertinya benar. Untuk masalah irit-iritan, Honda rajanya. Mungkin sejak Honda hadir Indonesia, produk-produk motornya sudah identik dengan motor irit. Read the rest of this entry

Wajah Pendidikan Anak

23 juli adalah hari anak, bagaimanakah pendidikan anak di Indonesia. Untuk pendidikan formal mungkin sudah sedikit teratasi dengan adanya program sekolah gratis. Sekolah gratis untuk wajib belajar (Wajar) 9 tahun lumayan mengurangi angka buta huruf masyarakat Indonesia. Itu untuk pendidikan formal, bagaimana dengan pendidikan non formal? pendidikan di rumah, pendidikan di lingkungan.

Pendidikan di rumah merupakan tanggung jawab orang tua. Baik itu pendidikan moral maupun pendidikan agama. Ada perdebatan mengenai tanggung jawab pendidikan moral dan pendidikan agama. Satu sisi berargumen bahwa pendidikan moral dan agama adalah tanggung jawab keluarga, satu sisi lagi berpendapat bahwa itu adalah tanggung jawab pendidik di sekolah. Kalau menurut saya sih keduanya punya tanggung jawab yang sama. Pendidik di sekolah dan orang tua di rumah punya kewajiban pengajarkan pendidikan moral dan agama.

Masalahnya sekarang adalah apakah pendidikan moral dan agama itu sudah diberikan dengan benar. Dari kasus-kasus yang terjadi, pendidikan moral dan agama yang diberikan pendidik dan orang tua belum memenuhi harapan. Sekarang sepertinya pendidikan moral dan agama bukan nomor satu, yang nomor satu adalah pendidikan akademik. Pemerintah lewat departemen pendidikannya menguatkan statement ini dengan memberlakukan batas nilai minimal kelulusan untuk nilai mata pelajaran akademik.

Satu lagi pendidikan yang tak pernah tersirat tapi bisa menjadi tersurat yaitu pendidikan di lingkungan. Contohnya adalah media informasi seperti televisi dan internet. Kedua media itu tidak pernah diungkapkan sebagai media pendidikan tapi kedua media itulah sebenarnya yang punya andil besar dalam pembentukan kepribadian anak. Tidak perlu saya berikan contoh karena anda semua sudah tahu. Pergaulan di masyarakat juga menjadi bagian dari pembentukan kepribadian anak.

Tidak bisa membayangkan bagaimanakah moral dan religiusitas generasi muda 10 tahun mendatang. Harapan saya tetap baik-baik saja. Ya…ya…saya tidak bisa memberikan solusi harus bagaimana, tapi saya menganjurkan anda untuk memulainya dari diri anda.

Hujan yang Menghebohkan

Kemarin, hari rabu tepatnya Semarang di guyur hujan yang sangat lebat. Hujan mulai sekitar jam dua-an ketika aku mau menuju ke tempat klienku untuk urusan suatu hal. di tengah jalan aku kehujanan, tidak bawa jas hujan lagi, akhirnya berteduh disebuah warnet, setelah hujan sedikit reda aku melanjutkan perjalanan, di tengah kota, tepatnya di jalan A. Yani jalannya tergenang air, sampai di simpang lima juga banjir. Banjirnya mengelilingi lapangan. Sampai di ujung jalan Gajahmada, deket Johar, banjir yang menggenangi jalan tingginya sekitar 50 cm lebih ditambah lagi mobil yang lewat. Jadinya, motorku mogok di tengah jalan dan aku aku harus mendorong motor sampai jalan yang tidak banjir.

Itulah sedikit cerita tentang banjir oleh karena hujan yang cuma sekali itu tapi efeknya heboh banget, klo baca koran pasti tahu, ada banyak pohon bertumbangan, papan iklan rubuh, rumah-rumah gentingnya pada rusak.

Aku tidak akan menyoroti semua, aku hanya ingin menyoroti tentang banjir di jalanan. Aku ingin membahas tentang ini bukan karena motorku mogok karena bajir di jalan, bukan. Banjir kan tempatnya di sungai, kenapa kok di jalan juga banjir? Pertanyaan kalau aku yang jawab adalah karena <b>tidak ada tempat lagi untuk air mengalir</b>, selokan yang terlalu sempit atau tersumbat kotoran. Semua tentu tidak nyaman dengan banjir di jalan ini, pengendara motor atau mobil, kantor-kantor daerah tempat banjir, pejalan kaki, pedagang kaki lima. Semua tidak nyaman.

Kita tidak bisa mengandalkan pemerintah untuk mengatasi masalah ini karena memang pemerintah tidak bisa diandalkan, bukannya ‘ngepal’ ini kenyataan kok. makanya kita harus sadarkan diri kita untuk mengerti tentang lingkungan. Tidak buang sampah sembarangan, mungkin adalah hal terkecil yang bila dilaksanakan akan punya efek positif bagi lingkungan. Semua bukan untuk siapa-siapa, semua itu untuk kita, untuk kenyamanan kita. iya tidak….

MENCEGAH BANJIR LEWAT LUBANG SERAPAN BIOPORI

Disarikan dari Suara Merdeka

Banjir danm tanah longsor terjadi dimana-mana, ini karena terjadi kerusakan lingkungan, tanaman pohon jadi tanaman perumahan, perkantoran atau mal, hutan-hutan menjadi gundul.

Ada teknologi tepat guna  karya Ir. Kamir R brata SM, staf Departemen Ilmu Tanah dan sumber daya lahan Fakultas Pertanian IPB. Teknologi tersebut bernama ‘lubang serapan biopori’. Teknologi ini bisa diterapkan dimana saja. Prinsip teknologi ini adalah menghindarkan air hujan mengalir ke daerah yang lebih rendah dan membiarkannya terserap ke dalam tanah melalui lubang resapan tadi. Dinamakan teknologi biopori/ mulsa vertikal karena mengandalkan jasa hewan-hewan tanah seperti cacing dan rayap untuk membentuk pori-pori alami dalam tanah dengan bantuan sampah organik

Bagaimana cara mengaplikasikan teknologi tersebut ? Mudah kok…

Langkah-langkahnya yaitu :

  1. Buat lubang sedalam 80 cm dengan diameter 10 cm, kedalaman lubang maksimal 100 cm. Kalau kedalamannya lebih dari 100 cm maka cacing-cacing dan organisme pengurai lainnya akan kekurangan oksigen, sehingga tidak dapat bekerja dengan maksimal.
  2. Setelah lubang jadi, masukkan sampah organik seperti daun dan ranting kering serta sampah rumah tangga yang dapat terurai

Dari sampah organik itu nantinya akan hidup cacing tanah dan rayap yang akhirnya membuat biopori. Pada saluran air, lubang serapan bisa dibuat setiap 100 cm dan pada ujung dibuat bendungan.

Ayo kita terapkan teknologi ini di rumah kita sendiri, jangan menunggu pemerintah untuk mengatasi masalah banjir, jangan menyalahkan siapa-siapa karena semua ini adalah salah kita sendiri bila terjadi banjir atau bencana tanah longsor.

Mari kita mulai dari rumah kita sendiri