Arsip Blog

Negara Ini Mengajari Rakyatnya Berbohong

Negara manakah? Negara yang kita tempati ini. Saya akan memberikan contoh nyata. Ada dua yang saya ketahui.

Pertama. Kalau bidang pekerjaan Anda perpajakan, tentu sudah tahu, kalau laporan SPT (Surat Pemberitahuan) Badan Tahunan, perusahaan mau tidak mau laporannya harus dibuat laba. Maksudnya mau tidak mau adalah sebenarnya laporan SPT Badan rugi itu boleh, tetapi kalau laporan SPT  Tahunan Badan rugi, maka Read the rest of this entry

Anak Indonesia dan Pendidikan

anak indonesia dalam tekananHari ini adalah bertepatan dengan hari anak nasional. Bicara tentang anak Indonesia, kita tidak bisa lepas dengan yang namanya pendidikan. Entah itu berkaitan dengan kesempatan mendapatkan pendidikan yang kurang sehingga masih banyak anak usia sekolah belum mengenyam pendidikan dasar sesuai yang diamanatkan oleh undang-undang. Memang…pendidikan dasar sekarang sudah gratis, tapi kebutuhan pendidikan anak itu bukan cuma bayar SPP dan uang gedung, tapi ada kebutuhan lain seperti alat tulis, transportasi, pakaian, sepatu, dll. Sehingga orang tua yang tak mampu memenuhi kebutuhan sekunder sekolah itu lebih memilih juga untuk tidak menyekolahkan anaknya. Read the rest of this entry

Wajah Pendidikan Anak

23 juli adalah hari anak, bagaimanakah pendidikan anak di Indonesia. Untuk pendidikan formal mungkin sudah sedikit teratasi dengan adanya program sekolah gratis. Sekolah gratis untuk wajib belajar (Wajar) 9 tahun lumayan mengurangi angka buta huruf masyarakat Indonesia. Itu untuk pendidikan formal, bagaimana dengan pendidikan non formal? pendidikan di rumah, pendidikan di lingkungan.

Pendidikan di rumah merupakan tanggung jawab orang tua. Baik itu pendidikan moral maupun pendidikan agama. Ada perdebatan mengenai tanggung jawab pendidikan moral dan pendidikan agama. Satu sisi berargumen bahwa pendidikan moral dan agama adalah tanggung jawab keluarga, satu sisi lagi berpendapat bahwa itu adalah tanggung jawab pendidik di sekolah. Kalau menurut saya sih keduanya punya tanggung jawab yang sama. Pendidik di sekolah dan orang tua di rumah punya kewajiban pengajarkan pendidikan moral dan agama.

Masalahnya sekarang adalah apakah pendidikan moral dan agama itu sudah diberikan dengan benar. Dari kasus-kasus yang terjadi, pendidikan moral dan agama yang diberikan pendidik dan orang tua belum memenuhi harapan. Sekarang sepertinya pendidikan moral dan agama bukan nomor satu, yang nomor satu adalah pendidikan akademik. Pemerintah lewat departemen pendidikannya menguatkan statement ini dengan memberlakukan batas nilai minimal kelulusan untuk nilai mata pelajaran akademik.

Satu lagi pendidikan yang tak pernah tersirat tapi bisa menjadi tersurat yaitu pendidikan di lingkungan. Contohnya adalah media informasi seperti televisi dan internet. Kedua media itu tidak pernah diungkapkan sebagai media pendidikan tapi kedua media itulah sebenarnya yang punya andil besar dalam pembentukan kepribadian anak. Tidak perlu saya berikan contoh karena anda semua sudah tahu. Pergaulan di masyarakat juga menjadi bagian dari pembentukan kepribadian anak.

Tidak bisa membayangkan bagaimanakah moral dan religiusitas generasi muda 10 tahun mendatang. Harapan saya tetap baik-baik saja. Ya…ya…saya tidak bisa memberikan solusi harus bagaimana, tapi saya menganjurkan anda untuk memulainya dari diri anda.

Belajar dari Main Game

Anda mungkin akan bertanya-tanya, belajar kok dari main? Belajar tuh dari buku, dari guru…atau mungkin anda berpikir ‘belajar main game kalee…
Tulisan ini adalah pendapat pribadi, anda boleh respect atau boleh juga prek..!. bersadarkan pengamatan yang penulis lakukan *kalo ini terlalu berlebihan, wong cuma khayalan….sebagaimana kita ketahui, main game adalah salah satu hiburan untuk membunuh rasa suntuk setelah menjalani aktivitas sehari-hari, atau menghabiskan waktu karena tidak ada kerjaan. Atau main game adalah pekerjaan, bisa saja. Kalau mendengar cerita dari temen-temen yang suka main game, mereka bisa menghabiskan berjam-jam lamanya ketika main game. Apalagi kalau hari libur, main gamenya bisa dari pagi sampai pagi lagi alias 24 jam nonstop. Luar biasa..!! itu main game atau semedi. Aku juga suka main game, tapi tidak sampai puluhan jam lamanya.
Lalu mana yang dimaksud belajarnya? Semangatnya….ya…semangat main game. Kalau saja semangat main game diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, kita akan jadi orang sukses *mungkin*. Coba saja jika kita bekerja semangatnya seperti main game, tidak kenal lelah, tidak kenal waktu, selalu ingin menang, selalu ingin mencari sesuatu yang baru. Atau jika kita masih masa sekolah, semangat nge-gamenya kita terapkan ketika belajar, wiiss…bakal jadi yang paling pandai :D
Pertanyaannya, mungkinkah??? Lha itu…yang aku belum tahu jawabannya. Model antara main game dengan bekerja atau sekolah/ kuliah beda. Kalau main game modelnya adalah SPORTIF, MENANG atau KALAH. Sedangkan di lingkungan kerja atau sekolah, modelnya adalah pengadilan, BENAR atau SALAH. Kalau menurutku, jika aku dinyatakan kalah, aku akan berusaha lagi untuk menang, jika kalah lagi akan berusaha lagi. Tapi jika aku dinyatakan salah, waduhh….harus bagaimana biar benar? Kalau tidak ya…lemes, otak langsung buntu, gelap. Sepertinya kalau dinyatakan salah, itu adalah sebuah akhir. Tapi jika dinyatakan kalah, wah….kalah ik, coba lagi ah biar menang.
Intinya….saya mengharapkan di tempat kerja atau sekolah. Jika karyawan tidak benar kerjanya, bos tidak berkata “kerjaanmu tidak benar semua” tapi berkata “kamu kalah”. Kalau di sekolah ya…gurunya berkata “kamu kalah semua”.
Atau kamu terapkan sendiri dalam diri kamu semangat main game. Jika kerjaanmu amburadul, maka kamu kalah dan cobalah untuk berusaha menang. Jika nilai ujian kamu jeblok, anggap aja itu suatu kekalahan. Jadi bekerja keras/ belajar giat bukan karena bos akan marah jika pekerjaan tidak selesai/ nilai ujian jeblok bila tidak belajar giat. Tapi karena semangat ingin memenangkan pertandingan. Maka cobalah untuk mencari kemenangan. Ayo terapkan semangat nge-game dalam kehidupan sehari-hari….
Mungkinkah? Semua terserah padamu