Pengabdian dan Keserakahan

Menyejajarkan pengabdian dengan keserakahan kok seperti membandingkan antara langit dan bumi. Bagaimana tidak, kalau pengabdian itu identik dengan kebaikan, sifat yang mulia, yang pantas disandang oleh mereka yang mengabdikan dirinya bagi bangsa (tentara), pendidikan (guru). Sedangkan keserakahan adalah sifat buruk, ingin menang sendiri, ingin menguasai apa yang ada dihadapannya, keangkaramurkaan manusia.

Tapi. Pengabdian kini dijadikan sebagai kedok untuk melanggengkan kekuasaan. Demi tetap ingin menjadi penguasa, seseorang memakai kata pengabdian untuk melanggengkan kekuasaannya. “Mengabdi untuk negara” atau “mengabdi untuk sepakbola” atau “mengabdi untuk rakyat”, adalah contoh kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan keinginan tetap melanggengkan kekuasaan.Disebut keserakahan karena masyarakat sudah tidak menghendaki tapi tetap ingin berkuasa. Kalau keinginan tetap berkuasa itu disertai dengan prestasi, mungkin masyarakat masih memberikan kesempatan. Tapi jika sudah tidak menghasilkan prestasi tapi ingin tetap berkuasa, masyarakat tidak terima.

Ternyata keserakahan itu terus ada, runtuhnya keserakahan selama 32 tahun rupanya hanya menjadi catatan sejarah. Tapi, pengabdian yang sebenarnya juga terus ada sampai saat ini.

About sanji0ne

bukan apa-apa, hanya manusia biasa, yang ingin berbagi dengan sesama

Posted on 18 Maret 2011, in opini and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. danke fΓΌr den interessanten Artikel.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s