Peran Blogger dalam Melestarikan Warisan Sejarah

Tari Kupu-kupu

Peran serta seorang blogger dalam upaya ikut melestarikan warisan sejarah nenek moyang adalah seperti yang akan saya lakukan ini, yaitu dengan menuliskan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah ke dalam blog yang saya miliki.

Berhubung saya mengikuti acara ABFI di Solo dan tempat-tempat yang saya kunjungi adalah Mangkunegaran Art Festival, Candi Sukuh, dan Keraton Surakarta, maka saya akan menuliskan kunjungan tersebut di atas ke dalam blog pribadi saya.

Tarian pembuka acara

Kunjungan pertama adalah ke Mangkunegaran Art Festival, di tempat in i saya dapat menikmati pertunjukan yang digelar secara gratis tis. Pengunjung tidak ditarik uang sepeser pun untuk menyaksikan pertunjukan yang digelar. Mungkin pengunjung hanya merogoh kocek untuk parkir atau membeli minuman atau makanan dikala haus atau lapar. Kemarin saya dapat menyaksikan pertunjukan tari dan operet anak. Ada tiga jenis tari yang ditampilkan, sedangkan operet anak menampilkan cerita tentang Timun Mas dan Buto Ijo.

operet anak – timun mas dan buto ijo

Untuk tarian yang pertama menceritakan tentang seorang gadis yang tumbuh dewasa dengan segala aktivitasnya, sedangkan tarian kedua adalah tari kupu-kupu, dan tarian terakhir menceritakan tentang aktivitas sehari-hari. Tari yang terakhir tersebut adalah tari yang diciptakan oleh raja Solo terakhir sebelum beliau wafat. Untuk operet anak, saya kira tidak perlu untuk diceritakan, kita tentu sudah hafal di luar kepala.

Relief pada candi sukuh

Kunjungan selanjutnya agak jauh dari lokasi ASEAN Blogger Festival Indonesia (ABFI), bahkan keluar dari kota Solo, tepatnya berada di kabupaten Karanganyar. Nama tempat yang kami kunjungi adalah sebuah candi kecil, yang dikenal dengan nama Candi Sukuh. Terletak di ketinggian 1.186 meter di atas permukaan aut, dengan jalan yang terjal sehingga akan sulit menjangkaunya jika kendaraan yang ditumpangi tidak sehat, seperti yang dialami rombongan saya dan rombongan di belakang. Mobil yang kami tumpangi tidak kuat naik, terpaksa harus dijemput mobil lain yang lebih sehat.

Nama Candi Sukuh sendiri diambil dari nama desa tempat candi tersebut berada. Candi Sukuh pertama kali diketahui pada tahun 1815 Johnson, yang diberi tugas oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data untuk menulis buku The History of java. Candi Sukuh berjarak sekitar 20 kilometer dari kota karanganyar dan sekitarnya 36 kilometer dari kota Solo.

mendengarkan pemandu menerangkan tentang relief

Candi Sukuh termasuk candi hindu, dasarnya adalah ditemukannya objek pujaan berupa Lingga dan Yoni. Ada yang mengartikan Lingga dan Yoni adalah alat kelamin ]laki-laki dan perempuan. Saya untuk sementara setuju dengan pendapat ini karena ada bukti berupa patung yang menyimbolkan tersebut, yaitu sebuah relief yang menyerupai rahim wanita dan sebuah patung yang menggambarkan sedang memegang ‘burung’. Candi Sukuh kalau dilihat lebih mirip dengan peninggalan budaya suku Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru, ada juga yang menghubungkannya dengan bentuk piramida di Mesir. Teman saya yang seorang traveller bilang “mungkin yang membuat candi ini dulu adalah seorang traveller yang pernah mengunjungi Meksiko atau Peru, dan juga pernah singgah di Mesir”. Ada-ada saja.

tarian sambutan

Kunjungan terakhir yaitu ke Keraton Surakarta. Keraton Surakarta didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II pada tahun 1744, sebagai pengganti istana atau keraton Kartosura yang porak-poranda karena geger pecinan tahun 1943. Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini ditetapkan sebagai istana resmi Kasunanan Surakarta. Sampai saan ini, keraton Surakarta masih ditempati raja dan keluarganya. Tradisi-tradisi yang dilakukan keraton juga masih dilestarikan sampai saat ini, seperti Gerebek, Sekaten, dan lain-lain.

latihan kirab

Lalu dimana peran seorang blogger dalam ikut melestarikan warisan sejarah dan budaya? jawabannya sudah saya jawab di paragraf  pertama. Penjelasannya akan saya uraikan berikut ini. Seorang blogger yang menulis kembali tentang sebuah warisan sejarah atau budaya ke dalam blognya, berarti ikut mencatat sejarah dalam bentuk tulisan. Tentunya bukan cuma dalam bentuk tulisan yang diposting di blog, si blogger juga biasanya menambahkan foto atau video sebagai pelengkap atau bukti bahwa si blogger mendiskripsikan apa yang dia lihat langsung. Misalnya semua orang yang ikut rombongan ke Candi Sukuh kemarin menuliskannya ke dalam blog masing-masing dan mengambil foto obyek dari sudut yang berbeda-beda, maka akan semakin menguatkan bukti otentik jika suatu masa nanti, warisan sejarah atau budaya telah hancur atau musnah, anak cucu kita bisa merekontruksi kembali dengan berpedoman dari apa yang telah kita tuliskan ke dalam blog.

Maka dari itu, sebagai seorang blogger jangan asal tulis, tetapi carilah kebenaran sumber, biar anak cucu kita nanti tidak salah dalam merekontruksi warisan sejarah atau budaya yang telah musnah

About sanji0ne

bukan apa-apa, hanya manusia biasa, yang ingin berbagi dengan sesama

Posted on 12 Juni 2013, in Catatan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s