Arsip Blog

Berguru Kepada Sang Nabi

Berguru Pada NabiBerguru Kepada Sang Nabi, itulah judul buku yang saya review ini. Dari judulnya tentu kita sudah bisa menebak apa kira-kira isi dari buku ini.

Sang Nabi yang dimaksud disini merujuk pada Nabi Muhammad, walaupun sebenarnya bukan cuma kisah Nabi Muhammad yang menjadi pelajaran. Contohnya ada kisah tentang tetangga Nabi Musa yang masuk surga, atau juga kisah Nabi Luth tentang penyimpangan seksual.

Dalam buku ini dicontohkan banyak sekali pelajaran-pelajaran yang dapat kita petik dari Nabi. Beberapa contoh pelajaran itu dibagi dalam beberapa bab. Bab-bab yang dibahas diantaranya tentang kehidupan rumah tangga, mendidik anak, Read the rest of this entry

Wajah Pendidikan Anak

23 juli adalah hari anak, bagaimanakah pendidikan anak di Indonesia. Untuk pendidikan formal mungkin sudah sedikit teratasi dengan adanya program sekolah gratis. Sekolah gratis untuk wajib belajar (Wajar) 9 tahun lumayan mengurangi angka buta huruf masyarakat Indonesia. Itu untuk pendidikan formal, bagaimana dengan pendidikan non formal? pendidikan di rumah, pendidikan di lingkungan.

Pendidikan di rumah merupakan tanggung jawab orang tua. Baik itu pendidikan moral maupun pendidikan agama. Ada perdebatan mengenai tanggung jawab pendidikan moral dan pendidikan agama. Satu sisi berargumen bahwa pendidikan moral dan agama adalah tanggung jawab keluarga, satu sisi lagi berpendapat bahwa itu adalah tanggung jawab pendidik di sekolah. Kalau menurut saya sih keduanya punya tanggung jawab yang sama. Pendidik di sekolah dan orang tua di rumah punya kewajiban pengajarkan pendidikan moral dan agama.

Masalahnya sekarang adalah apakah pendidikan moral dan agama itu sudah diberikan dengan benar. Dari kasus-kasus yang terjadi, pendidikan moral dan agama yang diberikan pendidik dan orang tua belum memenuhi harapan. Sekarang sepertinya pendidikan moral dan agama bukan nomor satu, yang nomor satu adalah pendidikan akademik. Pemerintah lewat departemen pendidikannya menguatkan statement ini dengan memberlakukan batas nilai minimal kelulusan untuk nilai mata pelajaran akademik.

Satu lagi pendidikan yang tak pernah tersirat tapi bisa menjadi tersurat yaitu pendidikan di lingkungan. Contohnya adalah media informasi seperti televisi dan internet. Kedua media itu tidak pernah diungkapkan sebagai media pendidikan tapi kedua media itulah sebenarnya yang punya andil besar dalam pembentukan kepribadian anak. Tidak perlu saya berikan contoh karena anda semua sudah tahu. Pergaulan di masyarakat juga menjadi bagian dari pembentukan kepribadian anak.

Tidak bisa membayangkan bagaimanakah moral dan religiusitas generasi muda 10 tahun mendatang. Harapan saya tetap baik-baik saja. Ya…ya…saya tidak bisa memberikan solusi harus bagaimana, tapi saya menganjurkan anda untuk memulainya dari diri anda.

Anak Miskin Tidak Boleh Sekolah

Beberapa hari yang lalu, aku membaca sebuah berita di koran. Inti yang aku baca adalah seorang siswi tidak mau lagi sekolah dan memilih untuk membantu ibunya berjualan walaupun telah dibujuk anngota dewan sekalipun yang mengunjunginya di tempat berjualan ibunya.
Penyebab siswa tersebut tidak mau sekolah lagi adalah karena merasa terhina oleh sindiran gurunya yang mengatakan “sekolah kok tidak bayar”. Siswi tersebut anak orang miskin, dia bisa sekolah karena mendapat beasiswa.

Berita ini semakin menambah nilai negatif bahwa “orang miskin tidak boleh sekolah”. Terus terang aya geram dengan lidah berbisa oknum guru tersebut. Tapi saya tidak menyalahkan oknum guru itu. Mungkin dia bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu karena lingkungan dan keadaan yang membentuk jiwanya, berkata seenak udel-nya. Lingkungan dalam arti, lingkungan tempat dia tinggal, tetangganya lulusan sarjana seperti dia, bisa menjadi kaya sedangkan dia hidupnya pas-pasan. Kita tentu tahu, gaji guru sedikit, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, jasa mereka tidak ternilai harganya, telah menghasilkan pemimpin-pemimpin bangsa. Tapi guru juga manusia, ada yang baik dan ada juga yang tidak baik. Ada yang tulus memberikan ilmunya, ada juga yang demi uang.

Kembali ke bahasan. Mungkin……sekali lagi mungkin oknum guru tersebut berpikir, sekolah gratis inilah yang menyebabkan kesejahteraan dirinya tidak meningkat. Karena apa? Karena pemerintah tidak bisa mengumpulkan uang banyak dari sekolah, imbasnya kesejahteraan dirinya tidak meningkat.
Benarkah demikian ? Entahlah..! Tapi tidak semua guru adalah oknum, malahan hanya segelintir saja guru yang menjadi oknum. Masih sangat banyak guru yang berhati mulia, bisa menjaga perkataannya, tidak silau oleh harta. Benarkah demikian ? Semoga saja