Category Archives: opini

Anak Indonesia dan Pendidikan

anak indonesia dalam tekananHari ini adalah bertepatan dengan hari anak nasional. Bicara tentang anak Indonesia, kita tidak bisa lepas dengan yang namanya pendidikan. Entah itu berkaitan dengan kesempatan mendapatkan pendidikan yang kurang sehingga masih banyak anak usia sekolah belum mengenyam pendidikan dasar sesuai yang diamanatkan oleh undang-undang. Memang…pendidikan dasar sekarang sudah gratis, tapi kebutuhan pendidikan anak itu bukan cuma bayar SPP dan uang gedung, tapi ada kebutuhan lain seperti alat tulis, transportasi, pakaian, sepatu, dll. Sehingga orang tua yang tak mampu memenuhi kebutuhan sekunder sekolah itu lebih memilih juga untuk tidak menyekolahkan anaknya. Read the rest of this entry

Iklan

Pengabdian dan Keserakahan

Menyejajarkan pengabdian dengan keserakahan kok seperti membandingkan antara langit dan bumi. Bagaimana tidak, kalau pengabdian itu identik dengan kebaikan, sifat yang mulia, yang pantas disandang oleh mereka yang mengabdikan dirinya bagi bangsa (tentara), pendidikan (guru). Sedangkan keserakahan adalah sifat buruk, ingin menang sendiri, ingin menguasai apa yang ada dihadapannya, keangkaramurkaan manusia.

Tapi. Pengabdian kini dijadikan sebagai kedok untuk melanggengkan kekuasaan. Demi tetap ingin menjadi penguasa, seseorang memakai kata pengabdian untuk melanggengkan kekuasaannya. “Mengabdi untuk negara” atau “mengabdi untuk sepakbola” atau “mengabdi untuk rakyat”, adalah contoh kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan keinginan tetap melanggengkan kekuasaan. Read the rest of this entry

Rantai Korupsi Tak Berujung

rantai korupsiKorupsi secara bahasa berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara atau perusahaan untuk kepentingan pribadi. Sejak berdirinya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sampai hari ini, korupsi masih tetap berlangsung. KPK ini sepertinya hanya seperti operasi polisi di jalan raya, yang tertangkap adalah mereka yang tidak beruntung karena melewati jalan yang sedang ada operasi. Sedangkan yang tidak lewat jalan tersebut, bebas melenggang.

Korupsi telah menjadi budaya. Mulanya korupsi hanyalah sebuah biji yang terbuang di tanah. Tidak pernah di duga sebelumnya. Biji korupsi tersebut kemudian tumbuh menjadi pohon kecil. Seiring dengan pertumbuhan pohon korupsi ini, akarnya semakin banyak dan membesar, menancap lebih dalam ke dalam perut bumi. Read the rest of this entry